Kisah Pejuang Hak Bertudung di Turki
Ketika Havva Yilmaz memakai pada usia 16 ia tidak menyedari telah membuat keputusan yang mengubah hidupnya. Keputusan itu kini menyatu dengan karakternya dan mengubah perempuan itu menjadi perjuang hak asasi dan kebebasan di Turki yang sekular.
"Sebelum saya memutuskan berjilbab, saya tidak tahu siapa saya," ujar Yilmaz, kini 21 tahun, seperti yang dinyatakan oleh Herald Tribune (14/10). Sebagai remaja sekolah menengah, ia dulu mengaku bingung dengan karakteristik dan jati dirinya.
"Tidak ada yang murni," kenang Yilmaz. "Semua hanya kabur", tambahnya. Jilbablah, yang bagi Yilmas membantu menemukan dirinya. "Setelah saya menutup badan, akhirnya saya tahu siapa diri saya," tegas Yilmas
Namun di negara seperti Turki, di mana agama adalah isu berduri dan sangat sensitive yang sering kali dibatasi di wilayah pribadi dan jilbab dilarang keras di sekolah dan universitas, keputusan Yilmaz bertemu tembok tebal.
Kedua orang tua, seperti yang dituturkan Yilmaz, sangat marah karena ia putus sekolah dan teman-temannya sudah putus bersahabat dengannya. Tudung adalah aturan berpakaian dalam Islam. Isu ini sudah lama menjadi isu kontroversial yang ditolak keras di negara berpenduduk majoriti Islam namun secular intinya.
Sudah lama pula jilbab dilarang di dalam bangunan-bangunan publik, universiti, sekolah, pemerintah, tidak lama setelah pemerintah tentera pada tahun 1980.
Lalu bagaimana kabar Yilmaz? Setelah ia diberhentikan sekolah ia mula bertemu dengan ahli falsafah politik dan belajar karya-karya para falsafah dan pemikir Barat yang terkenal. Ia juga mengambil kelas sosiologi di pusat studi terbuka.
Dengan rasa percaya diri yang baru dan identiti agama kuat, Yilmaz secara bertahap menemukan jalan menjadi aktivis politik dan front hak asasi di negaranya. Ia berusaha keras berkempen supaya hak bertudung dan berjilbab dikembalikan di dalam kampus dan seterusnya di praktikkan di dalam lingkungan bangunan jabatan dan pejabat awam dan pemerintah.
Ketika Partai Keadilan dan Pembangunan (AK) di turki mengajukan proposal undang-undang tudung dan jilbab. Yilmaz beserta dua kawannya berbaris berjalan kaki menuju hotel di Istanbul pusat.
"Rasa sakit yang kami alami saat pintu universiti menutup keras tepat didepan wajah memberi kami satu pelajaran penting," ujar Yilmaz. "Masalah nyata kita adalah mental pelarangan tersebut, yang mengira mereka memiliki hak untuk mencampuri urusan hidup orang," tegas katanya.
Pidato singkat yang menyentuh di hadapan wartawan itu menarik perhatian nasional. Yilmaz beserta kawannya diundang dalam acara bincang-bincang dalam sebuah TV, ia sempat diwawancara pula dalam radio dan surat kabar nasional.
Yilmaz adalah salah satu dari beberapa aktivis muda Turki yang bermunculan. Mereka tidak memperjuangkan Islam semata-mata. Ia beserta beberapa kawan mendirikan Young Civilian, kelompok yang mengkritik pedas isu-isu pemerintahan, seperti kebijakan negara terhadap Suku Kurdi, etnis minoriti terbesar di Turki
Meskipun kampennya jilbab masih belum menampakkan kejayaan , dengan keputusan pengadilan tinggi yang menganulir proposal AK--yang berarti lebih memihak pelarangan jilbab di kampus--,Yilmaz tidak akan pernah menyerah. "Kami melakukan sesuatu yang berharga. Orang mendengar suara kami. Jika kami bekerja sama, kami dapat melawan" ujar Yilmaz..
Republik
0 comments:
Post a Comment